Minggu, 30 April 2017

Urban Mental Health di Sekitar Kita

Seiring berjalannya waktu banyak orang yang merasa dirinya tidak mampu untuk menjalani kehidupan dengan caranya sendiri, dengan kapasitas kemampuannya sendiri. Sehingga ia berupaya keras untuk meningkatkan kualitas hidupnya serta kualitas ekonominya. Berbagai tekanan hidup telah ia jalani sampai akhirnya suatu ketika ia merasakan lelah yang teramat sangat. Disertakan dengan kekecewaan yang besar karena semua kehidupan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Kemudian ia tidak dapat mengendalikan kejiwaannya serta emosinya. Oleh sebab itu, di Negara dengan kapasitas penduduk yang besar dan padat juga dapat menjadi pendukung kesehatan jiwa seseorang. Terutama bagi seseorang yang hidup di daerah Ibu Kota dengan berbagai fasilitas yang beragam dan dengan harga yang ditawarkan. 
       Pernah kita mendengar kalimat “Jakarta Keras Bro”, dalam arti kalimat itu seseorang sudah menggambarkan seperti apa kehidupan di Jakarta yang sesungguhnya. Banyaknya tekanan dari dunia sekitar, kemudian banyaknya tuntutan dalam mencari pekerjaan. Maka itu, dapat dikatakan hidup dimanapun kita berada harus disertai dengan kreativitas. Karena skil yang kita miliki itu sangat terbatas, maka memperbanyak kreativitas itu sangatlah penting. Adanya berbagai macam kehidupan yang kita jalani akan membuat beban pikiran menjadi lebih banyak daripada pikiran kita sehari-hari. Kita dapat melihat urban mental health di sekitar kita, mereka adalah sebagian dari sekian banyak yang mengidap penyakit gangguan kejiwaan. 
    Sungguh sangat memprihatinkan keadaan mereka, ada yang dikucilkan, ada yang sudah tidak dipedulikan oleh keluarga. Padahal seseorang yang mengidap penyakit gangguan kejiwaan ini harus selalu didampingi oleh keluarga. Karena kesuksesan stabilnya kesehatan seseorang tergantung dari keluarga. Oleh sebab itu peran keleuarga sangatlah penting.
        Pernah mendengar kisah mengenai Rumah Sakit Jiwa di daerah Grogol?, ternyata di sinilah tempat untuk menstabilkan orang-orang yang memiliki gangguan kejiwaan.



Dulu Rumah sakit itu diberi nama Rumah Sakit Jiwa Grogol sedangkan sekarang adalah Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan. Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan telah berdiri selama 150 tahun lamanya dan masih setia hingga saat ini untuk membantu para pasien yang terkena penyakit gangguan kejiwaan. Suasana di rumah sakit itu tidak seperti apa yang kebanyakan orang pikirkan. Seperti pasien yang berkeliaran disekitar rumah sakit sambil ngamuk-ngamuk serta sambil bermain boneka. Sungguh ironi membayangkan pemikiran orang-orang yang menghayalkan suasana di rumah sakit jiwa. Padahal sebenarnya di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan ini memiliki fasilitas yang banyak serta dapat mendukung apa saja yang pasien inginkan.
Pasien di sana semua sudah seperti keluarga dan tidak ada yang dianggap bahwa mereka memiliki gangguan kejiwaan. Karena di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan ini membangun suasana yang kekeluargaan dan nyaman, sehingga pasien merasakan kehanggatan dan perhatian penuh dari para tenaga medis. Bahkan pasien memiliki jadwal setiap harinya sama halnya seperti seorang yang bersekolah kegiatan itu dinamakan Day Care. Kegiatan Day Care dilakukan setiap hari dari hari senin sampai jumat dari pukul 07:00 hingga 14:00.

Masing-masing pasien memilih kegiatannya secara random dari hari ke hari. Kegiatan yang disalurkan oleh rumah sakit adalah kegiatan bermusik, tata boga, berolahraga, serta kegiatan dalam bidang seni lukis dan prakarya, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan positif lainnya. Mereka semua dibimbing oleh tenaga medis agar dapat bersosialisasi dan dapat kembali diterima di masyarakat. Kegiatan Day Care hanya diikuti oleh pasien rawat jalan yang didampingi keluarga, jika pasien tidak memiliki keluarga maka pasien hanya mengikuti kelas yang sudah ditentukan dari pihak rumah sakit yaitu dari jam 10:00 sampai jam 11:00. Inilah jadwal Day Care para pasien di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan.

Pasien yang ditangani oleh rumah sakit jiwa Dr, soeharto Heerdjan ini berusia dari 18 tahun sampai 50 tahun saja. Jika ada pasien yang dibawah usia 18 tahun maka dimasukan ke ruang instalasi anak dan remaja, jika usia diatas 50 tahun maka ditempatkan di ruangan yang sama secara bersama-sama karena belum adanya ruangan khusus gayatri. Namun, dilihat dulu kondisi pasiennya jika memungkinkan untuk dikumpulkan jadi satu dengan pasien yang lainnya dan tidak ada kelainan fisik atau sakit fisik maka pasien dapat ditempatkan di ruangan yang sama dengan yang lainnya. Peran rumah sakit jiwa di sana adalah membimbing para pasien untuk bisa memilih hobi serta minat yang mereka sukai. Jangan khawatir dengan image dari rumah sakit jiwa ini karena, rumah sakit ini sudah masuk standar Internasional. Selain itu para pasien juga benar-benar dibimbing untuk kegiatannya, seperti ini hasil dari para pasien dalam kelas tataboga
. Hasil kue dan roti-roti yang mereka buat mereka perdagangkan juga hanya di sekitar area rumah sakit. Kenapa harus ada penyaluran seperti itu?, karena mereka memang pasien yang sejatinya normal dapat bekerja sebagaimana layaknya orang-orang lainnya. Dengan adanya pembentukan karakter ini suatu saat pasien akan bisa mandiri dan kembali ke lingkungannya dengan berwirausaha dan kepercayaan dirinya kembali tumbuh secara perlahan. Selain dibagian tataboga para pasien juga dapat menghasilkan sebuah karya seni lukis yang sangat luar biasa bagusnya.
          
Inilah gedung tempat untuk pasien di bawah 18 tahun dengan kategori anak-anak dan remaja. Gedung inilah yang menampung pasien di bawah 18 tahun. Di gedung ini semua kegiatan pun sama dengan para pasien yang lainnya.
Hanya saja mereka berbeda dari segi usia. Kejiwaan anak dan remaja biasanya saat mereka mulai malas untuk bersekolah. Tugas para dokter dan tim medis mengembalikan kembali semangat anak-anak serta remaja agar ingin kembali bersekolah. Satu hal yang menarik di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan ini adanya komunitas Rohis dan Rokris itu adalah sebuah kelompok yang disesuaikan dengan keyakinan serta agama masing-masing pasien. Tanpa diperintah mereka sudah dapat langsung mengikuti kegiatan setiap harinya. Sampai kapan rentang waktu pasien di rawat di rumah sakit jiwa itu?. Pasien di rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan ini hanya mendapatkan maksimal 21 hari masa perawatan inap atau rawat inap, setelah 21 hari maka pihak rumah sakit akan mengembalikan lagi pasien ke keluarga. Bagaimana pun kondisinya entah keluarga menerima atau tidak, tetap pihak rumah sakit akan mendrop off pasien di tempat keluarga. Bagaimana caranya agar pasien dapat menjalani rawat inap ini lagi?, caranya dengan mendaftarkan ulang kembali si pasien ke rumah sakit.

Sekarang jika kalian memiliki keluarga, sahabat, atau tetangga yang mengalami gangguan kejiwaan tidak perlu bingung lagi harus berobat kemana dan dengan siapa. Solusinya langsung bawa ke Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan saja para dokter di sana yang akan menangani pasien hingga pasien kembali terkontrol emosi dan logikanya. Bagaimana saya dapat menghubungi pihak rumah sakit?, awalnya bawa dahulu ke puskesmas terdekat karena puskesmas sebenarnya juga ada dokter bagian kejiwaannya. Setelah itu baru pihak puskesmas dapat menghubungi pihak rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan.

"Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan setia melayani hingga 150 tahun lamanya"

Tidak ada komentar:

Harapan Terbesar yang Berkesan

Setiap manusia memiliki satu harapan, yang pasti tak selalu pada harta dan tahta melainkan sesuatu yang simpel seperti keberhasilan merai...